Titah Sang Raja

ART, 23 Desember 2018
Sesuai janji raja, pada hari yang sudah ditentukan, dia memilih sebuah “istana kandang” untuk tempat menginap bayi mungil dan keluarganya

Dalam hidup ini ada tiga hal yang membuat pusing seorang raja: wabah penyakit menular, seorang penasehat yang tak mumpuni, dan kerajaan yang dikuasai para pedagang kaya. Raja Darwin memiliki ketiganya. Namun, tak ada yang lebih mengkhawatirkan daripada seorang raja tua yang belum memperoleh seorang anak untuk menjadi penerus tahtanya. Bertahun-tahun dia mencoba segala macam obat-obatan, tapi tak membuahkan hasil. Genap sudah dua tahun dia menyerah dan berhenti mencoba. Hari-hari itu dia lebih sering mengurung dirinya.

Tapi rupanya Yang Maha Kuasa masih kasihan padanya. Suatu siang sang ratu datang menemui dirinya yang belum juga mandi. Dengan senyum-senyum kecil, sang ratu mendekatinya dan berbisik di telinga raja, ”Aku sudah terlambat tiga minggu dan muntah-muntah setiap pagi.” Raja melonjak dari pembaringannya dan berseru tak percaya, “Maksudmu?”

“Ya, kamu akan segera menjadi papa,” kata sang ratu sambil mengelus-ngelus perutnya. “Kata tabib agung, anak lelaki.”



unsplash.com


Raja bersorak sambil menari-nari dan melompat-lompat kegirangan dan tertawa-tawa sampai menangis tersedu-sedu. Setelah mandi, Raja segera memanggil penasehatnya. Tergopoh-gopoh, Ali, si penasehat, memasuki balairung. Dua tahun terakhir ini, raja selalu uring-uringan dan sangat jarang memanggilnya. Hari ini dengan terheran-heran dia menghadap raja yang wajahnya terlihat segar bercahaya. Dengan tersenyum-senyum, raja bertanya, ”Apa yang akan kau lakukan kalau mendapatkan durian Monthong yang manisnya terasa seperti durian lokal?”

Si penasehat yang maklum akan kegemaran rajanya lalu menjawab, “Paduka, selama ini hamba tak pernah menemukan durian Monthong yang rasanya semanis durian lokal. Di manakah Paduka menemukannya? Apakah itu yang membuat Paduka sebahagia ini?”

“Kamu ini ditanya malah balik bertanya. Jawab dulu pertanyaanku.”

“Baiklah, kalau saya menemukan durian semacam itu, tentu pertama-tama, saya akan mempersembahkannya kepada Paduka Raja dan Ratu. Lalu, saya akan membagikannya kepada seisi rumah saya dan akhirnya saya akan meminta ahli pertanian untuk membudidayakannya di seluruh negeri.”

“Bagus. Begitu juga yang akan kulakukan kalau aku mendapat seorang putra,” timpal sang raja bersemangat.

Si penasehat melongo bingung sebelum akhirnya Raja mengkonfirmasi setengah berteriak,”Ya, aku mendapat seorang Putra Mahkota! Aku mau membagikan berita ini dengan seisi kerajaan dan semua negeri sahabat!”

Akhirnya Ali baru sadar bahwa ini bukan soal durian kegemaran raja.

Tiba-tiba raja terdiam. Lalu sambungnya,”Tapi aku tidak mau hanya begitu. Itu saja rasanya tidak cukup. Terlalu standar. Aku mau semua orang mencicipi kebahagiaan yang kurasakan saat ini. Apa saranmu?”
Setelah berpikir keras beberapa saat, Ali menjentikkan jarinya di udara, "Eureka! Saya usulkan agar Paduka menitahkan para hartawan di seluruh negeri untuk berlomba membangun istana kecil di kediaman mereka masing-masing. Nanti para Arsitek akan berkeliling ke seluruh negeri untuk menilai istana mana yang pantas disinggahi oleh Sang Bayi Putra Mahkota.”



unsplash.com


“Ide yang bagus sekali,” kata raja sambil berpandang-pandangan dengan ratu.

Diumumkanlah kabar gembira itu dan titah raja kepada para pedagang kaya di seluruh negeri. Para pedagang itu sudah lama berkolusi dengan para pembesar negeri. Tak sedikit di antara mereka yang menggantungkan kelangsungan bisnis mereka pada Ali yang idenya selalu didengarkan raja. Ali merasa inilah kesempatan bagus bagi rekan bisnisnya untuk menjalin hubungan langsung dengan raja. Maka dimulailah pembangunan istana kecil oleh para hartawan seantero negeri untuk meraih kesempatan disinggahi dan bercengkerama langsung dengan Raja sekeluarga.

Pembangunan istana-istana kecil ini menyedot banyak uang. Para hartawan ini adalah orang-orang yang luar biasa pelit. Untuk membangun istana-istana kecil ini, mereka tak segan-segan mengerahkan para pembantu, orang-orang yang berhutang dan tetangga-tetangga mereka yang miskin dengan upah kecil atau bahkan tanpa upah sama sekali. Hal ini mendatangkan kesengsaraan pada rakyat jelata.

Hidangan yang tersaji di meja raja agak berbeda beberapa hari belakangan. Durian monthong dan durian lokal menghilang dari sana. Daging domba tak lagi selezat biasanya. Kening raja berkerut melihatnya. Kepala dapur istana dipanggil menghadap. Dengan tatapan menyelidik, raja bertanya,”Ada apa dengan menu kesukaanku?” Juru masak itu tak dapat bicara saking takutnya. Kakinya gemetaran dan giginya gemerutuk. Akhirnya ketakutan melampaui ketahanan jantungnya. Dia pingsan di depan raja. Ratu yang bijaksana berkata,”Besok aku sendiri yang akan ke dapur untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.”

Keesokan harinya ratu datang pagi-pagi sekali ke dapur. Semua koki terkejut. Apalagi mereka sudah mendengar apa yang terjadi dengan kepala dapur. Sebelum ratu sempat bertanya, masuklah seorang anak perempuan menjinjing keranjang berisi dua ekor ayam hidup sambil menuntun seekor kambing. Anak itu terlihat kurus dan kotor. Bajunya bau apak. Wajahnya terlihat murung. Ratu menyapanya dengan lembut,”Halo, siapa namamu?” Anak itu memandang ratu dengan heran. Seingatnya belum pernah ada koki yang menyapanya dan koki ini tak pernah dilihatnya sebelumnya. “Namaku Ika,”jawabnya malu-malu.



unsplash.com


“Kamu pasti anak tunggal. Apa yang membuatmu sedih?” tanya ratu.

“Semua temanku dan papa mamaku sedang sedih,”jawab Ika tertunduk. Setelah menghela napas, dia menyambung, ”Semua orang disuruh bekerja sama bos dari pagi sampai malam untuk membangun sebuah istana. Akhirnya kami tak sempat lagi mengurus tanaman dan ternak kami. Kalau kami menolak kerja, bos akan marah dan mulai mengungkit-ungkit hutang papa. Papa akan dipenjarakan katanya. Akhirnya ternak kami kurus-kurus dan beberapa mulai jatuh sakit dan mati.”

Ratu sangat terkejut mendengar cerita Ika, lalu dia mengajak Ika masuk ke istana menemui raja. Raja marah sekali mendengar penuturan Ika. Dengan sedih Raja berkata, ”Maafkan aku, Ika. Ini semua gara-gara aku yang egois. Menurutmu apa yang sebaiknya kulakukan?”

Tanpa ragu-ragu, Ika mengusulkan,”Bagaimana kalau Paduka mengubah titah Paduka?”

“Maksudmu?”

“Beritahukan ke seluruh negeri kalau titah sebelumnya dibatalkan, lalu titahkan semua petani untuk menyediakan tempat yang bersih di dalam kandang ternak mereka. Bayi Putra Mahkota akan singgah dan menginap di kandang yang paling bagus.”

“Wah, tdak bisa. Kandang adalah tempat yang paling kotor. Selama bertahun-tahun negeri kita sering diserang wabah penyakit menular yang dimulai dari daerah peternakan dan pertanian. Lagipula…” Raja tidak jadi melanjutkan kata-katanya. Dia sebenarnya gengsi dan ingin berkata bahwa kaum petani dan peternak adalah golongan yang paling miskin dan hina di kerajaan itu. Sungguh memalukan kalau keluarga kerajaan harus menginap di rumah mereka.

Tapi Ika lalu membisikkan sesuatu di telinga raja. Raja kemudian mengangguk-angguk beberapa kali.

Maka dimaktubkanlah titah raja sesuai dengan usul Ika dan disebarkan ke seantero negeri. Gemparlah negeri itu. Para hartawan berhenti mengerahkan para hamba dan petani untuk bekerja paksa. Mereka bahkan membantu para petani dan peternak miskin itu untuk mempersiapkan kandang ternak menjadi tempat yang bersih dan layak bagi keluarga istana. Kandang yang bersih tidak lagi menjadi tempat berbiaknya wabah penyakit.



unsplash.com


Tibalah hari ini di mana bayi itu lahir. Semua orang bersukacita dan ketika keluarga kerajaan berkeliling negeri, mereka menemukan suatu kenyataan yang tak pernah mereka lihat di tempat lain. Banyak kandang ternak dipindahkan oleh para hartawan ke istana-istana kecil yang sudah telanjur dibangun. Sesuai janji raja, pada hari yang sudah ditentukan, dia memilih sebuah “istana kandang” untuk tempat menginap bayi mungil dan keluarganya.

Mulai saat itu tak ada lagi jarak antara yang kaya dan yang miskin di kerajaan itu dan wabah penyakit tidak pernah lagi terjadi di sana. Di kemudian hari Ika diangkat untuk menjadi penasehat Putra Mahkota. Banyak turis yang datang berkunjung ke kerajaan itu untuk melihat keunikan negeri “Seribu Istana Kandang.”

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE