Relasi di Ruang Tunggu

ART, 17 Oktober 2018
INT. RUMAH - RUANG TUNGGU - DUSK

Sudah bertahun-tahun lamanya tidak ada obrolan atau bertegur sapa di antara aku dengan support system-ku, seperti sudah memutuskan untuk saling beranjak dari ruang tunggu dan menjalani kehidupan kami masing-masing. Tapi kau tentu tahu bahwa Tuhan Maha membolak-balikan hati seseorang, kan? Plus, kau juga tahu bahwa Tuhan yang mempunyai kuasa atas kehidupanmu. Sebesar apapun usahamu untuk menghindari itu, jika Tuhan bilang iya, maka terjadilah. Begitulah yang dikatakan sahabatku demikian.

Ternyata, langkah kaki kami berjalan kembali pulang dan menuju ke arah ruang tunggu. Banyak hal yang berubah dari kami, pastinya. Tapi kau pasti pernah membaca pepatah ‘home is where heart belongs’—atau semacamnya. Obrolan mengalir begitu saja, selayaknya kau memang sedang berada di rumah. Tidak perlu ada obrolan ‘apa kabar?’ atau ‘how is your day?’. I named him Home.

Untuk seseorang yang mempunyai permasalahan trust issue yang berat—apalagi harus memiliki obrolan dengan si pembuat trust issue—bukanlah hal mudah, bukan? Kamu merasa tidak mempercayai setiap kata yang diucapkan, walaupun mungkin dia sudah mengatakan yang sebenarnya. Sangat besar usahanya untuk membuatmu yakin dan percaya. Tapi ketika tersadar bahwa kamu sedang berada di rumah, perlahan trust issue pun luntur, yeah meski tidak semuanya demikian.



Photo by Jack Finnigan on Unsplash


Mau tidak mau, dia adalah rumahku di mana aku mempercayakan cerita kepadanya. Seperti menceritakan beberapa kisah cinta dan pekerjaan yang kandas begitu saja dalam waktu yang singkat. Bahkan aku tidak tahu kisah cintanya dengan wanita manapun. Saat itu kami langsung pada topik yang sedang kami perbincangkan. Bagaimana bisa terjadi dan seperti apa. Sungguh, tidak terlihat seperti kami sudah lama tidak bertegur sapa sama sekali.


For where your treasure is, there your heart will be also. - Luke 12 : 34


“Nyaman,” dia berkata sambil tersenyum.


“Justru gue yang happy, kok,” tambahnya dengan cengiran khasnya.


“Pusing ini mikirin kerja,” keluhnya sembari memijat dahinya.
Bagaimanapun, rumah seharusnya menjadi tempat yang nyaman untuk kau percayai. Sebuah tempat yang idealnya bisa menjadi penampung segala cerita, luapan emosi, dan keluhanmu tentang apapun.

Cancel aja. Gue tunggu aja sampai urusan lo beres.” Dia tersenyum memaklumi.
Kerap kali, kamu meninggalkan rumah untuk urusan lainnya. Sebagai rumah, support system yang memahami urusanmu lebih penting itu mengusulkan untuk mengatur ulang jadwal pertemuan antara dirimu dengannya. Entah bertemu untuk sekadar berbicara sambil menikmati kopi atau hidangan makan malam. Meskipun perbincangan tersebut tidak membahas kita, mungkin tentang ikan paus di laut atau mungkin tentang bunga padi di sawah, sungguh bicara denganmu tentang segala hal yang bukan tentang kita, selalu bisa membuat semua lebih bersahaja (mengutip “Mari Bercerita”-nya Payung Teduh).

“Gak di-surprise-in yang gimana gimana, kok. Santai aja. Ya, ya, ya?” pintanya dengan tatapan memohon.
Kamu tidak habis pikir melihat dirinya yang meyakinkanmu dengan berbagai cara ketika kamu sangat trauma mendengar kata surprise. Lucunya, rumah malah memberi penjelasan hal apa saja yang akan menjadi agenda selanjutnya. Yeah, apa yang direncanakannya gagal sudah karena tidak dapat dikatakan menjadi sebuah surprise. Tapi itu memang caranya untuk membuatmu yakin dan percaya kepadanya.

Lebay amatt. Coba deh, baca Ibrani 11:1. Di situ dibilang, iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat,” ujarnya setelah mendesah keras.
Dulu hal ini merupakan usaha terakhirnya dalam membuatku yakin terhadap segala kecurigaan yang ada. Respon dalam mengetahui jika rumahku sedang sakit tapi dia tengah menutupinya.



Photo by Ben White on Unsplash


How to do a Novena prayer, jariku mengetikkan dalam mesin pencari online. Bukan untuk meminta kesembuhannya, tapi sebagai ucapan syukur. Sangat berterima kasih karena Tuhan masih memberikan support system dalam bentuk yang utuh. Layaknya doa Taize, doa Novena juga memerlukan kesiapan dan fokus hati. Susah memang. Bagaimana tidak, membawa dia—yang telah absen selama dua tahun—kembali dalam doamu.


--**--


Kembali dalam obrolan saat itu.

“Tahu kok, kalo lo happy. Belum tawar-menawar aja udah deal,” ejekku sambil tertawa.
Iya, tawar-menawar untuk salah satu kesempatan pertemuan kami. Tempatnya di mana, menu makanan yang seperti apa... Aneh memang. Dia aneh karena sudah setuju terlebih dahulu, dan sangat percaya begitu saja padaku.

“Tetep jadi, ya. Ini bisa, kok,” aku berusaha meyakinkannya.
Ada kemungkinan aku tidak bisa meyakinkannya, namun aku berusaha supaya kali ini tidak batal lagi.

“Jangan. Gue freak out ini. Pleaseee, kasih tau kisi-kisinya sedikitttt aja,” pintaku dengan memelas.
Aku tersenyum ketika mengingat rasa takut yang muncul ketika mendengar kata surprise, dan memohon padanya untuk diberikan sedikit bocoran. Saat itu, permohonan diajukan sebanyak tiga kali, dan disetujui.

I care with your health, okay?” rengekku.
Entah berapa kali aku gagal menyembunyikan rasa khawatirku, dan malah mengabaikan penjelasan tentang iman. Bahkan dalam salah satu nyanyian Taize yang seharusnya menguatkan, “Tuhanlah cinta, hiduplah bagi cinta kasih-Nya. Tuhanlah cinta, janganlah takut,” juga gagal mengingatkanku pentingnya beriman pada Sang Khalik.

Semakin panjang ungkapan terima kasihku ke Tuhan, semakin pendek obrolanku dengan dia yang kusebut sebagai Rumah.

“Coba dikomunikasikan,” dia mengarahkanku.
Entah berapa kali pula dia masih berusaha untuk menyamakan maksud dan tujuan kami dalam segala hal, sekalipun keadaannya terlihat tidak memungkinkan.

“Besok kita coba lagi, ya!” seruku.
Bukan menyerah. Kali ini aku memberi kesempatan. Kesempatan dan pilihan ke depannya.

“Terima kasih,” ucapnya.
Bagaimana dia merasa diterima. Bagaimana dia merasa masih diberi kesempatan. Bagaimana dia merasa bahagia.



Photo by Scott Webb on Unsplash


Rumahku sangat sederhana. Di depannya tertanam pohon asam jawa sebagai peneduh untuk kehidupan yang gersang dan akarnya menancap sampai ke dalam bumi supaya kokoh. Di ruang tunggu, hanya terdapat satu set chaise sofa yang kami gunakan untuk berbagi segala hal; obrolan, lelucon, bahkan tangisan. Bukan tentang seseorang yang telah lama dikenal, melainkan selalu menerima satu sama lain dengan tangan terbuka.

Lagi, kami masih berada di dalam ruang tunggu. Berpikir sejenak: apakah besok harus menambah ruang lainnya selain ruang tunggu?

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE