Pulang: Perjalanan Menuju Rumah Penerimaan

ART, 06 Juli 2018
Mungkin kita sudah lupa bagaimana lega dan bahagianya menerima fakta, bahwa kita dicintai apa adanya, terlepas dari apa yang diperbuat, terlepas dari penampilan atau pencapaian, terlepas dari betapa tidak layaknya kita ini di mata dunia atau bahkan, di mata kita sendiri


Artwork by Elisabeth Budiasih @elisabethbwemma


Mungkin kita sudah lupa bagaimana lega dan bahagianya menerima fakta, bahwa kita dicintai apa adanya, terlepas dari apa yang diperbuat, terlepas dari penampilan atau pencapaian, terlepas dari betapa tidak layaknya kita ini di mata dunia atau bahkan, di mata kita sendiri


Mungkin kita kelewat banyak merantau, bergelut dengan urusan sehari-hari, lalu menjadi lupa karena terseret deras konformitas ini


Waktu yang berkejaran dengan pencapaian yang seakan menjadi pusat perhatian. Pencapaian yang mengukur keberhargaan, keberhargaan yang penting untuk mendapat pengakuan, pengakuan yang kita butuhkan untuk merasa kuat bertahan dalam kehidupan penuh kemanusiawian, meskipun sebenarnya hanya melahirkan kesenangan dan kebanggaan, bukannya kebahagiaan yang langgeng bisa diandalkan


Namun kita pun terjebak pula, masih

dalam lingkaran yang sama, yang itu-itu saja

sama seperti semua, yang lainnya


Bahwa keberhargaan penting untuk pengakuan, dan keberhargaan lahir dari banyaknya dan hebatnya pencapaian. Label-label disemat, diselip, dipajang, oleh kata-kata orang.

Keberhargaan kita begitu rapuhnya, rentan. Tak lagi ditempatkan dalam ruang aman, dalam sudut pandang Ilahi yang mengandung kebenaran.


Maka, ketika kita gagal, kita hancur. Keberhargaan kita retak, pecah, karena pencapaian dijadikan ukuran. Kita lupa:


Betapa berharganya rasa dicintai apa adanya, terlepas dari apa yang diperbuat, terlepas dari penampilan atau pencapaian, terlepas dari betapa tidak layaknya kita ini di mata dunia atau bahkan, di mata kita sendiri


Lupa, bahwa kegagalan, kelemahan, ketidaklayakan, tidak membuat Ilahi berhenti mengasihi.

Lupa, bahwa kasih-Nya terlampau dalam tak seperti penerimaan kasih kita ini yang sangat manusiawi yang sibuk mengukur layak tak layak, sibuk menuntut pencapaian dan pembuktian, yang gemar menghitung limpah gemilang hidup.


Mungkin karena kita sudah terlalu lama, terlalu sibuk, terlalu jauh, berkelana.

Mungkin kita memang butuh pulang, kali ini tanpa menunda lagi.


Pulang, ke dalam rumah penerimaan Ilahi, yang tak melihat rupa maupun hasil pribadi dan yang kasihnya kokoh, tak tergoncang oleh kegagalan, kelemahan, ketidaklayakan, subjek yang dikasihi. Kasih yang kukuh, yang tak mengenal kondisi dan tak terbatas situasi


Pulang, ke dalam pelukan sambutan hangat yang tak pernah berhenti.

Menanti, dengan cinta yang membuat kita selalu menyerah dan akhirnya, merindu lagi

Sebuah rumah dimana kita mengenal dan dikenal.

Dengan begitu sempurna.


Dimana masa lalu, kegagalan, kelemahan, kekurangan, ketidaklayakan diterima dan dibicarakan

Dirangkul dan bersama-sama dilalui-dilewati dalam kasih yang tak lelah mendampingi

Kegagalan bisa dimaklumi dan diperbaiki


Sebuah tempat paling teduh, paling tenang,

Paling tepat untuk pulang:


Disana, di dalam rumah penerimaan kasih Ilahi

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE