Menemukan Tuhan di Luar Zona Nyaman

ART, 8 Juni 2018
Ada satu hal yang sangat mengganggu saya akhir-akhir ini, yang selalu saya abaikan dan lama kelamaan bikin suntuk sendiri: kuliah saya.


Artwork by @jessicaaanath


Ada satu hal yang sangat mengganggu saya akhir-akhir ini, yang selalu saya abaikan dan lama kelamaan bikin suntuk sendiri: kuliah saya.

Sampai pada suatu hari, hal tersebut membawa saya pada satu titik puncak di mana saya merasa kosong, tidak bisa berbuat apa-apa, tidak tahu harus melakukan apa. Hal itu justru berdampak pada konsentrasi dan ketertarikan akan bidang yang saya tekuni semakin menurun.

Hari itu adalah pengambilan nilai dari tugas yang sudah dikerjakan. Pagi harinya, saat akan melanjutkan tugas, saat saya meletakkan semua kertas tugas di atas meja, saya hanya bisa menatapnya sambil berpikir "apa yang harus saya lakukan?" Saya merasa kosong. Hati saya tidak ada di situ.

Saya merasa tidak berada di bidang tersebut padahal awalnya saya dengar sendiri Tuhan telah memanggil secara langsung dalam pemilihan bidang kuliah. Tidak, saya tidak mengabaikan-Nya, saya merespons panggilan tersebut. Saya ingin sekali mewujudkannya. Namun sering kali saya bertanya-tanya, "Bagaimana caranya Tuhan?" Saya merasa terjebak dalam dilema untuk memenuhi panggilan Tuhan meskipun secara pribadi saya merasa tak ada lagi hati di bidang tersebut.

Singkat cerita, saya menceritakan pergumulan ini pada seseorang yang saya percaya, yang saya kira dapat membantu saya mengurai segala kebingungan. Mungkin kalau orang lain yang mengatakan hal ini pada saya, saya tidak akan benar-benar mendengarkan, dan tidak akan menjadi sebangkit ini, mengingat saya adalah orang yang sangat susah untuk dinasehati. Apa yang dia katakan ini sangat membuat saya terkejut dan saya merasa bahwa itu bukan dia yang berbicara pada saya, itu Tuhan.

Ia berkata pada saya, "Aku tahu kamu pasti bisa. Tuhan sudah panggil kamu berarti Tuhan punya rencana yang besar di hidupmu. Ayo jangan menyerah, punyalah mental finisher. Jangan pernah lari dari apapun. Aku yakin kamu gak salah di jurusanmu ini. Mungkin Tuhan mau kamu berubah di sini. Kamu itu talented sekali, potensimu itu besar. Aku yakin kamu bisa."

Di situ saya merasa, ya, oke, saya mau belajar untuk berubah, berubah menjadi pribadi yang lebih baik, belajar untuk keluar dari zona nyaman saya. Karena saya tahu, untuk mengikut jalan Tuhan berarti kita harus keluar dari zona nyaman kita.

Lalu saya tersadar, mengapa Tuhan tempatkan saya di tempat yang sangat-bukan-saya-sekali. Kalau saya melakukan hal yang saya senangi, saya tidak melakukannya untuk Tuhan, saya melakukannya untuk diri saya sendiri, untuk kesenangan saya semata. Justru saat saya melakukan hal yang sangat-bukan-saya-sekali, saya tidak punya alasan apapun kecuali melakukannya untuk Tuhan. Dan terlepas dari semua struggle yang saya dapati, ini yang saya dapat, "Saya benar-benar menemukan dan bertemu Tuhan saat saya tidak lagi menjadi diri saya sendiri".

Itulah mengapa berjalan mengikut Tuhan itu begitu sulit, harus keluar dari zona nyaman, harus sesekali melakukan hal yang tidak saya sukai. Di situlah ketaatan kita diminta dan diuji. Seringnya, kita menemukan Tuhan justru di masa yang paling tak nyaman, kita mengenal Tuhan lebih dalam saat diri kita sendiri belajar rela dibentuk.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE