Antara Rumahku dan Rumahmu

ART, 23 Desember 2018
Lalu dengan sikap misterius, si tamu menjulurkan wajahnya ke depan wajah Papa Martin dan menatapnya dalam-dalam sambil berbisik, “Menurut Bapak, kenapa Tuhan Yesus tidak memilih lahir di Bethel, yang berarti Rumah Tuhan, namun memilih lahir di Bethlehem, yang berarti Rumah Roti?

Seorang pemuda menjinjing sebuah kotak bertuliskan sebuah nama “Papa Martin” sambil membunyikan bel di pagar rumah tua itu. Kalau diperhatikan sekilas, tak ada yang istimewa dengan rumah Martin. Namun tak seorang pun di antara kita yang akan pernah menemukan ruangan di rumah lain yang ditata sesimetris ruangan-ruangan di rumahnya.

Memasuki ruang tamunya, kita akan segera berhadapan dengan dua lemari besar yang sebangun di kanan dan kiri ruang dengan posisi persis seperti dalam pencerminan. Di tengah, di antara kedua lemari, sebuah meja tamu dengan dua sofa panjang (yang juga sebangun) mengapitnya berhadap-hadapan. Di bagian bawah lemari pertama, tertata semua pernak pernik yang dibawa pulang Papa dari ziarahnya ke Yerusalem, mulai dari gantungan kunci berbentuk sangkakala sampai diorama kelahiran bayi Yesus yang diukir dari tanduk kambing Gunung Tabor.

Di bagian tengah lemari diisi buku-buku tafsiran semua kitab dalam Alkitab yang disusun berurutan mulai dari buku tafsiran Kitab Kejadian sampai buku tafsiran Kitab Wahyu. Di bagian atas diisi foto-foto keluarga dalam bingkai-bingkai kecil. Lemari kedua diisi berbotol-botol minyak zaitun, minyak jarak Israel, anggur Israel dan berbagai jenis minyak lain dari Israel. Bagian tengah diisi berbagai buku rohani yang luar biasa tebal dan di bagian atas terpasang gambar-gambar Yesus, para rasul, orang-orang kudus dan foto almarhumah Mama.



unsplash.com


Semua teman Martin sudah hafal bagaimana harus berjingkat-jingkat tanpa menyentuh apa pun ketika harus melewati ruangan ini menuju kamar Martin. Pernah sekali mereka berusaha mencari buku tafsiran dan buku rohani yang mereka perlukan untuk mengerjakan tugas agama, lalu Papa Martin, entah dari mana, tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu dengan kumis menjuntai, wajah merengut, dan tangan terkepal. Matanya menyala menyapu seisi ruang tamu yang dipenuhi remaja-remaja yang berselonjoran di sana sini sambil seenaknya membalik-balik halaman buku-buku yang harganya jutaan rupiah. Sebelum ada yang sempat bergerak dari tempatnya, suaranya menggelegar memenuhi rumah itu,”Siapa yang mengijinkan kalian menyentuh barang-barang saya?”

Beberapa menit berikutnya, semua orang sudah berdiri berbaris di sisi dalam ruangan dengan kepala tertunduk sementara Papa Martin memeriksa kelengkapan semua buku yang sudah dikembalikan ke tempatnya semula seperti seorang jenderal memeriksa kerapihan barisan serdadu. Sebelum mereka semua dibubarkan, mereka mendapat pesan khusus dari Sang Jenderal, ”Jangan sekali-kali mengotori kesucian rumah yang kupersiapkan bagi kedatangan Tuhan atau merusaknya menjadi sarang penyamun!” Beberapa teman sempat melirik kepada Martin yang berdiri di pojok sambil cengar-cengir. “Sungguh kurang ajar! Si Martin nggak pernah memperingatkan kita kalau ada macan di sini!” begitu maki mereka dalam hati.

Kamar Martin adalah satu-satunya ruangan yang tampaknya tak sempat “disucikan”. Segala macam barang busuk dapat ditemukan di setiap sudut kolong ranjang, di dalam lemari atau laci meja, mulai dari roti sisa sampai kaos kaki bau. Buku-buku filsafat (yang disebut buku setan oleh Papanya) dan komik bertebaran di mana-mana. Bukan hanya sekali dua Papanya ribut dengannya karena hal ini, justru karena sudah terlalu sering sampai akhirnya Papanya menganggap dirinya tak pernah punya anak lelaki bernama Martin yang tinggal di rumah itu. Tegur sapa antara keduanya pun hanya terjadi di depan tamu atau saudara saat ada acara. Tapi itu justru membuat Martin merasa sedikit lega.



unsplash.com


Itu semua cerita lima tahun lalu, sebelum Martin akhirnya benar-benar lenyap. Pada hari yang gelap itu, Papa Martin pulang dan menemukan botol anggur Israel setengah kosong di atas meja tamunya. Dia sangat menyayangi semua barang dari ziarahnya di Israel karena dia tahu bahwa tak akan pernah ada kesempatan kedua baginya untuk mengumpulkan tabungan seumur hidupnya yang cukup untuk berziarah sekali lagi.

Entah berapa jam dia duduk terpekur dengan mata melekat pada botol anggur itu. Cairan merah di dalamnya semakin tampak gelap dan pekat seperti darah. Sebelum bayangan Martin muncul dari dalam rumah, siulan santainya sudah mengaung di seluruh rumah. Martin hanya menoleh sekilas ke arah papanya yang duduk membeku di sana. Sekerjap kemudian, papanya berdiri sontak, meneriakkan satu kata, “PEMABUK!” Martin terpaku di sana sambil mengeluarkan suara dengusan perlahan. “Mamamu tak pernah melahirkan seorang pemabuk! Berani-beraninya kau minum anggur untuk perjamuan kudus dengan Tuhan untuk memuaskan hawa nafsumu!”

Senyum kecut tersembul di ujung bibir Martin. Sambil melengos, papanya masuk ke dalam rumah. Botol anggur itu ditinggalkan di sana begitu saja. Martin mengusap matanya yang basah dengan punggung tangannya. Tangannya meraih sebuah foto dirinya yang sedang dipangku mamanya dengan kue ulang tahun yang sedang dipotong papanya. Itu terakhir kali Papanya melihat Martin dan botol anggurnya. Bertahun-tahun setelah itu, saudara-saudaranya kerap menerima kiriman uang atau hadiah dari Martin yang menyatakan sudah bekerja di suatu tempat nun jauh di luar pulau.

Dengan dingin, Papa Martin mendengarkan cerita saudara-saudaranya, sedingin sikapnya saat menerima tamu yang membawa kotak bertuliskan namanya hari itu. Tamunya memiliki aura yang menimbulkan rasa hormat di hati mereka yang bertemu dengannya. Setelah berbasa-basi, Papa Martin menantikan tamunya untuk memperkenalkan diri dan mengutarakan niatnya bertemu. Tapi rupanya tamu ini agak luar biasa bawelnya. Dia terus nyerocos mengenai Yerusalem setelah melihat-lihat isi bagian bawah kedua lemari di ruang tamu itu. Rupanya dia pernah tinggal cukup lama di Israel sehingga dapat menguraikan keadaan Israel dengan berbagai daerah dan iklimnya yang kadang-kadang bercuaca ekstrim.



unsplash.com


“Pernah sekali, saya dan kawan-kawan menyeberangi Danau Galilea dengan perahu kecil, lalu cuaca yang begitu cerah sekonyong-konyong berubah ekstrim dan mengamuklah angin ribut yang hampir menenggelamkan kami.” Karena ceritanya semakin lama semakin menarik, Papa Martin mulai mencair.

Lalu dengan sikap misterius, si tamu menjulurkan wajahnya ke depan wajah Papa Martin dan menatapnya dalam-dalam sambil berbisik, “Menurut Bapak, kenapa Tuhan Yesus tidak memilih lahir di Bethel, yang berarti Rumah Tuhan, namun memilih lahir di Bethlehem, yang berarti Rumah Roti?”

Papa Martin tiba-tiba merasa suara orang ini sungguh tak asing baginya, tapi setelah berusaha mengingat-ingat beberapa saat, dia tak berhasil memastikan di mana mereka pernah bertemu. Lalu dia menjawab dengan acuh tak acuh,"Ya, Dia kan Tuhan. Dia mau lahir di mana saja itu urusan Dia.”

“Saya kira tidak demikian. Dia selalu punya maksud dalam setiap kata dan iota. Saya kira Dia memilih Bethlehem karena Dia memang senang kalau bisa pergi makan roti dengan sahabat-sahabatNya daripada diam di Bethel, di rumahNya sendiri,” sahut si tamu sambil tersenyum kecil.

Sambil menunjuk bungkusan roti tak beragi oleh-oleh dari Israel yang selama itu disimpan di lemari bersama-sama dengan anggur dari Israel, tamu itu melanjutkan,”Bolehkah kita cicipi roti itu sekarang?”

Berkerut dahi Papa Martin mendengar usulan tamunya. “Maaf, kita belum lagi berkenalan. Anda tidak tahu bahwa apa yang saya simpan di sini bukan untuk tamu seperti Anda.”

“Jadi untuk siapakah engkau menyimpan semua barang-barang ini?”

Pertanyaan itu membuatnya terdiam karena semua orang tahu bahwa barang-barang di situ terlalu berharga untuk disentuh oleh anaknya sekalipun. Dia tak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu.

Perlahan-lahan si tamu bangkit dan beringsut ke bagian bawah lemari yang dia maksud dan mengulurkan tangannya mengambil bungkusan roti itu, lalu kembali ke tempat duduknya seolah-olah tidak ada masalah apa pun dengan perbuatannya. Walaupun sangat marah, papa Martin seperti tersihir dan tak sanggup mengatakan apa pun sampai tamu itu mulai merobek bungkusan dan mengambil roti tak beragi dan memecah-mecahnya menjadi beberapa bagian.



unsplash.com


Seolah tersadar, Papa Martin membentak,”Cukup! Siapa Anda? Berani-beraninya…”

Apakah kau belum juga mengenali aku? Selama aku hidup di dunia ini, aku tak pernah memiliki sebanyak yang kau miliki. Orang tua ku harus meminjam palungan untuk kelahiranku, aku harus meminjam tempat tidur banyak orang selama aku berkeliling mengajar, aku harus meminjam makanan dari seorang anak ketika banyak orang lapar datang minta makan kepadaku, aku harus meminjam keledai untuk masuk ke Yerusalem, aku harus meminjam ruang atas rumah orang untuk perjamuan terakhirku. Aku bahkan harus meminjam kuburan dari Yusuf orang Arimatea. Dan maafkan, kalau hari itu aku meminjam ini darimu,” sambil membuka kotak yang dibawanya, "anggur terbaik dari Israel yang bisa kutemukan di kota ini pada hari ketika Martin dengan murah hati meminjamkannya kepadaku. Hari ini kukembalikan padamu.”

Sebotol anggur berisi setengah dikeluarkan dari dalam kotak dan terletak di meja itu sekarang. Sebotol anggur yang lenyap bersama Martin. Sebotol anggur yang membuka semua memori dan perasaan yang sudah lama terkunci di dalam hati yang membeku.

Papa Martin terhenyak di kursinya.

“Hari ini aku singgah ke rumahmu untuk makan roti dan minum anggur bersama denganmu.”

Surat terakhir yang dikirimkan Martin kepada salah seorang saudaranya mengatakan bahwa dia baik-baik saja bersama papanya. Tidak ada yang tahu bagaimana mereka bisa bertemu karena sudah bertahun-tahun Papa Martin pun menghilang tanpa pamit. Yang pasti, rumah mereka kini dipakai oleh sebuah gereja kecil yang jemaatnya dengan bangga memperlihatkan koleksi langka buku-buku tafsiran dan benda-benda berharga dari Israel.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE